News Balikpapan — Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur merilis data terbaru mengenai perkembangan indeks harga konsumen (IHK) untuk periode September 2025.

Hasilnya, Kota Balikpapan tercatat mengalami deflasi sebesar 0,21%, sementara Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) justru mencatat inflasi sebesar 0,34%.
Baca Juga : TPID dan BI Kaltim terus perkuat sinergi cegah laju inflasi
Kondisi ini menunjukkan adanya perbedaan arah pergerakan harga antarwilayah, meskipun keduanya berada dalam satu kawasan ekonomi yang saling terhubung.
Balikpapan Deflasi, Harga Bahan Pangan Turun
Menurut Kepala BPS Kaltim, penurunan harga komoditas pangan menjadi faktor utama yang menyebabkan deflasi di Balikpapan.
“Beberapa komoditas seperti cabai merah, bawang merah, dan beras mengalami penurunan harga cukup signifikan selama September,” jelasnya, Senin (6/10/2025).
Selain bahan pangan, kelompok transportasi dan perumahan juga mencatat penurunan harga, dipengaruhi oleh berkurangnya aktivitas pasca libur panjang serta stabilnya pasokan BBM dan tarif listrik.
Deflasi ini dinilai sebagai indikasi positif bagi daya beli masyarakat, meski pemerintah daerah tetap diminta mewaspadai potensi fluktuasi harga jelang akhir tahun.
PPU Justru Inflasi, Didorong Kenaikan Tarif dan Komoditas Lokal
Berbeda dengan Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara mengalami inflasi akibat kenaikan harga sejumlah komoditas konsumsi lokal dan tarif jasa transportasi antardaerah.
“Inflasi di PPU disebabkan meningkatnya permintaan barang menjelang kegiatan pemerintahan dan pembangunan infrastruktur di kawasan IKN,” ungkap Kepala BPS.
Kenaikan harga ikan segar, daging ayam ras, serta tarif transportasi laut menjadi penyumbang inflasi tertinggi.
Selain itu, meningkatnya aktivitas ekonomi dan proyek pembangunan juga ikut mendorong pergerakan harga di wilayah tersebut.
Dampak Terhadap Ekonomi Regional
Perbedaan ini, menurut BPS, mencerminkan dinamika ekonomi yang khas di wilayah Kalimantan Timur.
Balikpapan sebagai kota jasa dan perdagangan lebih sensitif terhadap perubahan harga pangan, sementara PPU yang dekat dengan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) cenderung terdorong oleh aktivitas pembangunan dan mobilitas pekerja.
“Ke depan, koordinasi pengendalian inflasi antarwilayah harus diperkuat agar kestabilan harga tetap terjaga,” tambah BPS Kaltim.
Langkah Pemerintah Daerah
Pemerintah Kota Balikpapan menyambut positif deflasi ini, namun tetap melakukan operasi pasar murah untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.
Sementara Pemerintah Kabupaten PPU berkomitmen menekan inflasi dengan penguatan distribusi pangan dan monitoring harga di pasar tradisional.
Dengan langkah terukur, diharapkan kestabilan ekonomi di kedua daerah dapat terus terjaga menuju akhir 2025.







